Jumat, 29 Juli 2016
Pembunuh Kepercayaan
Apa memang cinta datang bersama kesedihan? Sebuah kalimat yang membuatku tersentak kemudian mengingat-ingat sebuah kenangan pahit tapi masih saja kurindukan.
Aku benci berbicara soal cinta, yang mana aku sudah percaya sepenuhnya tetapi aku malah dikecewakan. Aku benci bicara soal jarak, yang mana selalu aku bayangkan namun akhirnya malah menghancurkan. Cinta, kau membuatku bersedih.
Awalnya semuanya baik-baik saja, indah tanpa cela dan selalu membuatku bersemangat untuk menantikan malam tiba. Kunyalakan laptopku dan ku tekan tanda video call pada salah satu layanan yang kerap kali ku gunakan saat rindu memburuku. Sebuah gambar dan suara membuat jantungku lemas, "aku rindu orang ini, rindu sekali" benakku. Percakapan pun mengalir hingga aku lupa waktu untuk tidur.
Waktu demi waktu berlalu, semakin banyak hal yang dia usahakan untuk membuatku bahagia dari jauh. Aku menghargai, sungguh. Sampai aku tidak menyadari ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan dariku.
Hari itu, hari dimana ia ada disini. Untuk kesekian kalinya ia pulang. Namun kali ini berbeda, ternyata kepulangannya bukanlah untukku. Berbagai alasan ia ucapkan ketika aku berusaha mencoba untuk menemuinya. Sedih memang, namun tetap saja aku mencoba percaya sepenuhnya.
Malam itupun tiba, sudah seminggu aku tak jua bertemu. Aku mencari tahu apa yang dia lakukan disini tanpaku. Bagaimana bisa? Aku yang katanya menjadi tujuan ketika dia singgah malah diacuhkan.
Tringg.. notif path ku berbunyi, sebuah nama yang sudah sangat tidak asing bagiku mengupdate lokasi bersama seseorang. Aku tersentak, karena nyatanya hari ini ia belum menghubungiku namun ia bisa-bisanya mengupdate di media sosial dengan seorang wanita. Aku berusaha tenang dan mencoba untuk menjernihkan pikiran. Namun belum selesai aku melakukannya, notif pathku pun berbunyi kembali. Dan kali ini sungguh membuatku lemas, sebuah foto sepasang manusia dengan ekspresi bahagia...
Sejak saat itu semuanya berubah, hatiku menjadi beku. Dingin dan meredup. Kalau ada kata yang lebih menyedihkan dari kata "hancur" mungkin itulah jelmaan dari perasaanku. Namun yang kucoba untuk lakukan hanyalah melepaskan dengan seikhlas-ikhlasnya.
Setahun berlalu, aku menjelma menjadi sebuah dinding yang besar dan kokoh menutupi rumah hatiku yang masih rapuh. Aku lebih kuat dari apa yang orang lain bisa bayangkan. Aku bahagia, purapura bahagia lebih tepatnya. Sampai pada akhirnya kekuatan hatiku kembali diuji ketika ada sebuah pesan dengan nama yang pernah ku kutuk muncul dilayar telepon genggamku berkata "hai, kamu apa kabar?"...
"Dulu, ketika aku sedang cinta-cintanya kamu malah lari meninggalkanku sendiri. Tapi saat aku sudah berhenti dan mulai berpaling, kenapa kamu masih kembali lagi?"
Aku benci berbicara soal cinta, yang mana aku sudah percaya sepenuhnya tetapi aku malah dikecewakan. Aku benci bicara soal jarak, yang mana selalu aku bayangkan namun akhirnya malah menghancurkan. Cinta, kau membuatku bersedih.
Awalnya semuanya baik-baik saja, indah tanpa cela dan selalu membuatku bersemangat untuk menantikan malam tiba. Kunyalakan laptopku dan ku tekan tanda video call pada salah satu layanan yang kerap kali ku gunakan saat rindu memburuku. Sebuah gambar dan suara membuat jantungku lemas, "aku rindu orang ini, rindu sekali" benakku. Percakapan pun mengalir hingga aku lupa waktu untuk tidur.
Waktu demi waktu berlalu, semakin banyak hal yang dia usahakan untuk membuatku bahagia dari jauh. Aku menghargai, sungguh. Sampai aku tidak menyadari ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan dariku.
Hari itu, hari dimana ia ada disini. Untuk kesekian kalinya ia pulang. Namun kali ini berbeda, ternyata kepulangannya bukanlah untukku. Berbagai alasan ia ucapkan ketika aku berusaha mencoba untuk menemuinya. Sedih memang, namun tetap saja aku mencoba percaya sepenuhnya.
Malam itupun tiba, sudah seminggu aku tak jua bertemu. Aku mencari tahu apa yang dia lakukan disini tanpaku. Bagaimana bisa? Aku yang katanya menjadi tujuan ketika dia singgah malah diacuhkan.
Tringg.. notif path ku berbunyi, sebuah nama yang sudah sangat tidak asing bagiku mengupdate lokasi bersama seseorang. Aku tersentak, karena nyatanya hari ini ia belum menghubungiku namun ia bisa-bisanya mengupdate di media sosial dengan seorang wanita. Aku berusaha tenang dan mencoba untuk menjernihkan pikiran. Namun belum selesai aku melakukannya, notif pathku pun berbunyi kembali. Dan kali ini sungguh membuatku lemas, sebuah foto sepasang manusia dengan ekspresi bahagia...
Sejak saat itu semuanya berubah, hatiku menjadi beku. Dingin dan meredup. Kalau ada kata yang lebih menyedihkan dari kata "hancur" mungkin itulah jelmaan dari perasaanku. Namun yang kucoba untuk lakukan hanyalah melepaskan dengan seikhlas-ikhlasnya.
Setahun berlalu, aku menjelma menjadi sebuah dinding yang besar dan kokoh menutupi rumah hatiku yang masih rapuh. Aku lebih kuat dari apa yang orang lain bisa bayangkan. Aku bahagia, purapura bahagia lebih tepatnya. Sampai pada akhirnya kekuatan hatiku kembali diuji ketika ada sebuah pesan dengan nama yang pernah ku kutuk muncul dilayar telepon genggamku berkata "hai, kamu apa kabar?"...
"Dulu, ketika aku sedang cinta-cintanya kamu malah lari meninggalkanku sendiri. Tapi saat aku sudah berhenti dan mulai berpaling, kenapa kamu masih kembali lagi?"
Tak Bisa Selamanya
Biru, tenang, dan berkabut adalah hal yang bisa ku jelaskan tentang dirimu.
Kau begitu sempurna, setidaknya itu di mataku.
Kau berhasil untuk membuatku selalu tertegun setiap kali ku pandang teduhnya dirimu.
Kau membuatku menceburkan semua harapanku di matamu.
Birumu yang begitu bening, membuatku kaku tak bisa beranjak untuk berjalan lebih jauh lagi, aku terpaku.
Tenangmu yang begitu sepi, membuatku nyaman hingga rinduku tak kunjung menepi, aku terhanyut.
Kabutmu yang begitu misterius, membuatku ingin selalu menemanimu walau ku tahu kau tak membutuhkan itu, aku terkagum.
Begitu indah, hingga aku lupa bahwa banyak sosok lain yang sama indahnya denganmu seperti senja di tepi pantai, atau sunrise di atas puncak.
Akan tetapi, meski sudah ku yakinkan dirimu berulang kali bahwa aku sangat bahagia untuk menemani dirimu disini namun jawabanmu tetaplah sama, "aku lebih suka sendirian".
Baiklah.
Terimakasih untuk pemandangan yang kau berikan kepadaku, mengijinkanku untuk tenggelam bersama harapanku.
Dan ternyata aku harus segera bangkit, untuk berjalan lebih jauh lagi. Untuk menemui pemandangan yang lebih indah lagi, dan menyambutku dengan penuh kasih.
Nb: write by me.
Pict by aksaratua
Saat hatiku berkata semuanya sudah tak lagi rumit
Aku kira aku berhasil bangkit
Saat tak ada lagi rasa sedih melihat hujan rintik-rintik
Aku kira aku berhasil bangkit
Saat sekian tahun hati ini terbiasa di semai dengan kenyataan pahit
Aku kira aku berhasil bangkit
Saat aku tahu tak ada celah rasa s
Pagiku rindu, kenyataannya selalu...
Ku sesap kopi hitam ini dengan penuh semangat sambil kubayangkan tadi malam kau menghubungiku lalu meminta untuk bertemu.
Sama, perasaan ini selalu saja sama seperti awal kita bercengkrama. Saat kita masih berada dibawah langit yang sama dan saat aku masih belum paham apa itu merindu lama.
Sialnya, lagi-lagi lamunan ini terlampau jauh sampai membangunkan kembali kenangan yang sudah lama mati. Membuat hati ini perlahan hidup lagi. Setelah sekian lama sudah bersusah payah menjauhkan perasaan ini..
Apa itu bangkit? Kalau kenyataannya hati ini masih menanti walau sudah ditinggal pergi.
akit untuk hatiku yang mulai menyempit"
Apa itu bangkit? Saat melihat fotonya saja kepalaku bisa tumbuh buah stroberi
Apa itu bangkit? Memikirkannya satu menit membuat aku jatuh cinta lebih gila lagi
Maka kenyataannya.. Bagiku, kata bangkit hanyalah sebuah asumsi.
Kamis, 28 Juli 2016
Langganan:
Postingan (Atom)


