Apa memang cinta datang bersama kesedihan? Sebuah kalimat yang membuatku tersentak kemudian mengingat-ingat sebuah kenangan pahit tapi masih saja kurindukan.
Aku benci berbicara soal cinta, yang mana aku sudah percaya sepenuhnya tetapi aku malah dikecewakan. Aku benci bicara soal jarak, yang mana selalu aku bayangkan namun akhirnya malah menghancurkan. Cinta, kau membuatku bersedih.
Awalnya semuanya baik-baik saja, indah tanpa cela dan selalu membuatku bersemangat untuk menantikan malam tiba. Kunyalakan laptopku dan ku tekan tanda video call pada salah satu layanan yang kerap kali ku gunakan saat rindu memburuku. Sebuah gambar dan suara membuat jantungku lemas, "aku rindu orang ini, rindu sekali" benakku. Percakapan pun mengalir hingga aku lupa waktu untuk tidur.
Waktu demi waktu berlalu, semakin banyak hal yang dia usahakan untuk membuatku bahagia dari jauh. Aku menghargai, sungguh. Sampai aku tidak menyadari ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan dariku.
Hari itu, hari dimana ia ada disini. Untuk kesekian kalinya ia pulang. Namun kali ini berbeda, ternyata kepulangannya bukanlah untukku. Berbagai alasan ia ucapkan ketika aku berusaha mencoba untuk menemuinya. Sedih memang, namun tetap saja aku mencoba percaya sepenuhnya.
Malam itupun tiba, sudah seminggu aku tak jua bertemu. Aku mencari tahu apa yang dia lakukan disini tanpaku. Bagaimana bisa? Aku yang katanya menjadi tujuan ketika dia singgah malah diacuhkan.
Tringg.. notif path ku berbunyi, sebuah nama yang sudah sangat tidak asing bagiku mengupdate lokasi bersama seseorang. Aku tersentak, karena nyatanya hari ini ia belum menghubungiku namun ia bisa-bisanya mengupdate di media sosial dengan seorang wanita. Aku berusaha tenang dan mencoba untuk menjernihkan pikiran. Namun belum selesai aku melakukannya, notif pathku pun berbunyi kembali. Dan kali ini sungguh membuatku lemas, sebuah foto sepasang manusia dengan ekspresi bahagia...
Sejak saat itu semuanya berubah, hatiku menjadi beku. Dingin dan meredup. Kalau ada kata yang lebih menyedihkan dari kata "hancur" mungkin itulah jelmaan dari perasaanku. Namun yang kucoba untuk lakukan hanyalah melepaskan dengan seikhlas-ikhlasnya.
Setahun berlalu, aku menjelma menjadi sebuah dinding yang besar dan kokoh menutupi rumah hatiku yang masih rapuh. Aku lebih kuat dari apa yang orang lain bisa bayangkan. Aku bahagia, purapura bahagia lebih tepatnya. Sampai pada akhirnya kekuatan hatiku kembali diuji ketika ada sebuah pesan dengan nama yang pernah ku kutuk muncul dilayar telepon genggamku berkata "hai, kamu apa kabar?"...
"Dulu, ketika aku sedang cinta-cintanya kamu malah lari meninggalkanku sendiri. Tapi saat aku sudah berhenti dan mulai berpaling, kenapa kamu masih kembali lagi?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar